Showing posts with label BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label BUDAYA. Show all posts

Monday, November 20, 2017

PONDOK PESANTREN DARUSSALAM RAJAPOLAH TAMPILKAN PENTAS SENI BAHASA ARAB

By Kata Risman   Posted at  6:23 PM   SOSIAL No comments

RAJAPOLAH – Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam di Kampung Narunggul Desa Tanjungpura Kecamatan Rajapolah menggelar Drama Arabic Contest (DAC) dengan tema membentuk karakter keislaman siswa atau santri lewat drama berbahasa Arab kemarin (19/11).

Pimpinan Ponpes Darussalam KH Ahmad Deni Rustandi MAg mengatakan drama berbahasa Arab ini untuk menunjukkan bahwa kegiatan di Ponpes Darussalam tidak pernah berhenti menunjukkan kedinamisan. “Penguasaan Bahasa Arab merupakan identitas keilmuan dan kesantrian,” ujar KH Ahmad saat diwawancara Radar di Ponpes Darussalam kemarin.
Menurut KH Ahmad, pagelaran drama di sebuah institusi pendidikan baik sekolah maupun pesantren merupakan hal yang istimewa. Lebih istimewa lagi menggunakan Bahasa Arab. “Tema drama yang diangkat sarat dengan nilai karakter keislaman,” ungkap dia. Pagelaran DAC, kata dia, merupakan media penampung sekaligus penyalur aspirasi santri.
Sekaligus media untuk meningkatkan penguasaan berbahasa Arab siswa atau santri Ponpes Darussalam.
Darussalam, tambah dia, dalam setahun mengadakan dua kali drama berbahasa Arab. Drama ini menjadi implementasi prinsip pendidikan di ponpes. “Apa yang dilihat, apa yang didengar dan apa yang dirasakan adalah pendidikan. Alhamdulillah berjalan lancar. Drama berbahasa Inggris Insya Allah akan dilaksanakan di Semseter 2 ini,” tambahnya.


Ketua Panitia DAC Hendri Hendriawan menambahkan DAC merupakan salah satu cara untuk meningkatkan penguasaan berbahasa Arab bagi para santri. “Menjadi ajang santri untuk berkreativitas,” tuturnya. (dik)



Saturday, April 16, 2016

ASAL MUASAL SITU GEDE TASIKMALAYA

By Kata Risman   Posted at  10:23 PM   SOSIAL No comments

"JANGAN PERNAH MELUPAKAN SEJARAH" 
kata-kata ini pas untuk memulai artikel ini,agar kita tetap ingat siapa nenek moyang kita,dan selalu mendoakan mereka,semoga dalam kebahagiaan di sana!!
 berikut ini :

SEJARAH SITU GEDE TASIKMALAYA

Purnama bersinar, menerangi alam Sumedang yang tengah lelap tertidur, negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawi, kini seolah beristirahat menikmati hasil kerjanya selama sehari penuh, diantara kesunyian malam dan sinar purnama, masih terdengar kentungan dipukul orang, menandakan tidak semua warga terlelap, namun masih ada yang terjaga menjaga lingkungannya.
Namun di halaman belakang komplek istana kerajaan Sumedang, masih terdengar sesuatu yang agak asing ditelinga, lengkingan suara yang agak tertahan namun mantap mengandung tenaga, disertai desingan sesuatu yang membelah udaha, terdengar jelas dimalam yang telah larut itu, cahaya remang obor bambu, melengkapi sinar purnama yang menyinari seorang pemuda tegap tengah memperagakan ilmu kanuragan dengan gesit, cepat mantap dan bertenaga, itulah Prabu Adilaya, Raja Muda Sumedang yang tengah menempuh ujuan terakhir dari ilmu kanuragan yang dipelajarinya, sebagai seorang raja, tentu saja harus memiliki berbagai ilmu untuk menjaga diri dan menjaga masyarakatnya, disamping ilmu kenegaraan, harus pula dipelajari ilmu lain termasuk ilmu kanuragan dan bela diri.
Di bawah pohon yang agak rindang, duduk seorang pria tua berjanggut panjang, mengenakan pakaian serba hitam kepalanya yang berambut putih diikat dengan ikat kepala hitam, kakek ini dengan cermat memperhatikan Sang Prabu yang tengah berlatih, kadang-kadang kepalanya mangut-mangut, atau senyum kepuasan tersungging di bibirnya yang keriput.
“Cukup Raden!” tiba-tiba si Kakek berseru
Prabu Adilaya berhenti, kemudian berbalik menghadap gurunya dengan gerakan menyembah,
“Terimakasih, Eyang Guru”
“Sekarang duduklah, Raden”
Prabu Adilaya, duduk bersila, kedua tanganya berada di atas pangkuannya
“Tenang, Raden”
Kakek yang dipanggil Eyang guru, melugas pedang yang berkilau mengkilap diterpa cahaya bulan, tiba-tiba pedang itu menebas punggung Sang Prabu, terdengar suara sesuatu yang patah dan terlempar, Eyang Guru berdiri tegak, memperhatikan pedang yang ternyata sudah patah terpotong dua, ada senyum puas tersungging dari bibir keriput Eyang Guru, kemudian, dengan langkah ringan menghampiri muridnya yang duduk bersila, tangannya terjulur kedepan, seraya berkata dengan mengulum senyum “ Lulus Raden”
Ketika ayam berkokok dan matahari menyeruak embun pagi, Guru dan murid tengah bercengkrama, di serambi samping istana, disuguhi makanan dan minuman hangat,
“ Raden, semua ilmu yang kumiliki, sudah kuajarkan semua kepadamu, dan Raden sudah menyerapnya dengan baik, namun bagi seorang Raja, kiranya ilmu yang kuajarkan belum cukup, harus disertai dengan ilmu bathin terutama ilmu agama” kata Eyang Guru sambil menatap muridnya”
“Saya pun merasakannya, Eyang, ilmu kanuragan yang Eyang ajarkan masih perlu ditambah dengan ilmu agama, sehingga, dalam menjalankan roda pemerintahan, saya memiliki dasar yang kuat dan dapat bertindak bijaksana”
Prabu Adilaya, menjawab dengan penuh harap,
“Kemana lagi saya harus berguru, Eyang?
Sang Prabu yang muda dan haus ilmu tampak sangat berkeinginan untuk belajar lebih banyak.
“Pergilah ke Mataram, bergurulah kepada KYAI SYEH JIWA RAGA, disana Raden akan mendapatkan ilmu-ilmu bathin dan ilmu agama”
“Terimakasih Eyang guru”
Sang prabu mencium tangan gurunya, orang tua yang sudah berambut putih ini merapatkan kedua tangannya di dada, seraya menghaturkan sembah, dia berkata
“Saya mohon pamit, Raden”
“Silahkan, terimakasih, Eyang”
“Sampurasun”
“Rampes”.
**
Siang itu Prabu Adilaya menjalankan tugasnya sehar-hari sebagai seorang Raja, disaat tertentu selalu terngiang perkataan gurunya, bahwa ilmu yang kini dimilikinya belumlah cukup untuk seorang Raja, namun harus ditambah dengan ilmu bathin terutama ilmu agama, harus ke Mataram untuk mencarinya, seketika sang prabu merasakan kekosongan, ternyata benar kata pepatah, batang padi semakin berisi semakin merunduk, semakin banyak ilmu seseorang, semakin merasakan kekurangan, semakin haus akan ilmu, namun keinginan untuk menuntut ilmu berarti harus meninggalkan Sumedang dan berbulan-bulan di Mataram, sementara tampuk pemerintahan saat ini sang Prabu-lah yang bertanggung jawab. Tetapi kebingunan itu tidak lama, Prabu Adilaya teringat, bahwa selalu ada orang yang mampu memberi jalan keluar dari semua persoalan yaitu ibunya. Sang prabu pun turun dari singgasananya dan berjalan keluar keprabon, melewati taman sari, tibalah ke kaputren tempat ibunya tinggal.
“Saya haturkan sembah, Kang Jeng Ibu”
“Silahkan Raden, Pangeranku, wajahmu tampak murung, utarakanlah pada Ibu, Raden”
Prabu Adilaya manarik nafas dalam-dalam, begitu bijaksana Ibunya sehingga dapat melihat kemurungan diwajah anaknya.
Dengan lemah lembut Prabu Adilaya menyampaikan maksudnya untuk berguru ke Mataram sebagai bekal untuk dapat memerintah secara adil dan bijaksana, disampaikannya pula bahwa menuntut ilmu agama dan ilmu lainya akan memakan waktu berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun sementara kerabuan di Sumedang harus ditinggalkan, tanpa diduga, Sang Ibu terseyum mendengar keluhan putranya,
“Bagi seorang raja, sangatlah perlu memiliki ilmu agama dan ilmu lainnya, ibu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa dan bangga ternyata Kangjeng Rama tidak salah pilih menobatkan, sebagai Raja, sudah ada sifat kearifan seorang raja dalam dirimu, keinginanmu untuk menuntut ilmu, merupakan keinginan yang luhur, pergilah anaku, tugasmu sehari-hari akan dilaksanakan oleh adikmu”
Wajah Prabu Adilaya kembali berseri-seri seolah medapat kejatuhan bintang dari langit, sejenak ibunya melanjutkan :
“Bawalah serta istrimu dan pelayanmu yang setia”
Prabu Adilaya pun mohon pamit untuk melakukan persiapan keberangkatannya.
II
Seolah berlomba dengan ayam berkokok, Prabu Adilaya didampingi istrinya Nyai Raden Dewi Kondang Hapa dan sepasang pelayannya Sagolong dan Silihwati berangkat dari tanah Sumedang kearah timur menyongsong matahari pagi, melalui padang terjal berbukit, mengarungi kelebatan hutan, menuruni lembah dan mendaki bukit, banyak malam harus dilewatkan dengan tidur beralas daun kering berkelambu birunya langit, akhirnya sampai jugalah ke Mataram ke tempat dimana Kyai Jiwa Raga bermukim.
Kyai dengan wajah cerah menyambutnya, memberikan tempat yang terbaik bagi sang Prabu dan kedua pelayannya, ketika menyampaikan maksudnya untuk berguru, Kyai dengan senang hati menerimanya sebagai muridnya.
Keinginan sang Prabu yang sangat kuat untuk mempelajari Ilmu Agama menyebabkan dia cepat menyerap ilmu yang diajarkan, banyak kitab kuning yang dapat dihapal dalam waktu singkat, banyak pula kitab-kitab lainnya yang masih harus dibacanya dengan tekun dan ulet, kesungguhannya dalam belajar dan kemampuannya yang luar biasa tidak luput dari perhatian Kyai yang mengajarnya yang selalu terkagum-kagum dengan semangat belajar yang sangat tinggi.
Tak terasa sudah empat purnama berlalu Prabu Adilaya tak sempat banyak berpikir dan berbuat lain, waktu sesaat pun dimanfaatkan untuk menyerap pelajaran yang diberikan oleh Kyai Jiwa Raga, gurunya. banyak hal keduniawian terlupakan termasuk istrinya yang selalu mendampinginya sejak dari Sumedang.
Suatu saat, Kyai Jiwa Raga berbicara kepada muridnya:
“Raden, apa yang saya miliki, sudah saya ajarkan kepadamu, namun mempelajari islam tidak cukup dari satu sumber, Raden harus berguru kepada yang lain”
Prabu Adilaya menganguk-ngangguk seraya berkata :
“Setiap saat saya menemukan persoalan yang harus dipecahkan dengan bantuan ajaran Islam, ijinkan saya untuk menambah ilmu yang Kyai berikan, dan mohon petunjuk harus kepada siapa saya berguru ?.
“Pergilah ke tatar Sukapura, banyak Kyai yang berilmu luhung disana, tetapi sebelum pergi, sudikah Raden membawa putri saya Dewi Cahya Karembong dalam perjalanan Raden” Kyai Jiwa Raga menatap muridnya dengan penuh harap.
“Dengan senang hati Kyai”
“Seandainya Raden berkenan, jadikanlah putri saya sebagai istri raden yang kedua”
Prabu Adilaya agak kaget mendengar perkataan gurunya, sebagai murid dia harus patuh kepada Guru, namun dia sudah beristri dan sampai saat ini terlupakan karena terlalu tekun dalam mempelajari Agama Islam, tetapi ketaatan kepada gurunya, menyebabkan Prabu Adilaya tidak kuasa menolak tawaran itu,
“Baiklah, Kyai, saya akan menjadikan Dewi Cahya Karembong sebagai istri kedua”
“Terimakasih Raden”
Tidak berselang lama, dilakukanlah upacara akad nikah antara Prabu Adilaya dengan Dewi Cahya Karembong, putri Kyai Jiwa raga yang cantik jelita, upacara sederhana yang dihadiri oleh seluruh murid Kyai Jiwa Raga, sekaligus menandai bahwa Prabu Adilaya merupakan murid Kyai Jiwa Raga yang paling pandai, yang dinikahkan dengan putri Kyai, tradisi ini bertahan sampai sekarang, santri yang paling pandai dari sebuah pesantren akan dinikahkan dengan putri ajengan (Kyai).
Keinginan untuk belajar Ilmu Agama Islam Prabu Adilaya tetap membara, sang prabu berpamitan kepada Kyai, untuk melakukan perjalanan ke Tatar Sukapura mencari Guru yang dapat mengajarkan Agama islam lebih dalam dan lebih banyak, Kyai pun memanjatkan do’a untuk keberangkatan menantu dan putrinya yang disertai Raden Dewi Kondang Hapa istri pertama Prabu Adilaya
III
Perjalanan dari Mataram menuju Tatar Sukapura bukanlah perjalanan dekat, hampir sama dengan perjalanan dari tatar Sumedang ke Mataram, kali ini perjalanan lebih menggembirakan karena anggota rombongan bertambah menjadi enam orang dengan hadirnya Dewi Cahya Karembong, sepanjang perjalanan Prabu Adilaya dengan kedua istrinya selalu kelihatan ceria, untuk membuang kejenuhan sepanjang perjalanan Prabu Adilaya selalu bercerita yang disarikannya dari ceritera sempalan Tarich Islam, tentang kebijakan Rosululloh dalam menyebarkan Agama islam, kesederhanaan Rosul, keberaniannya dalam menegakkan agama Islam terutama kebesaran jiwa Rosul dalam menghadapi musuhnya yang belum beragama Islam, apabila malam menjelang mereka beristirahat melepas lelah, tetapi Prabu Adilaya selalu membaca ulang kitab-kitabnya yang diberikan oleh Kyai Jiwa Raga, sampai kedua istrinya tertidur pulas, sang Prabu masih membaca kitabnya dengan teliti, barulah ketika ayam berkokok satu kali, setelah sembahyang tahajud, sang Prabu merebahkan tubuhnya diantara kedua istrinya, ketiganya tertidur berkelambu langit cerah berbintang.
Banyak malam telah dilewati, perjalanan pun semakin jauh, Prabu Adilaya tetap dengan kebiasaannya menekuni kitab-kitab ajaran islam sampai larut malam, kebiasaan suami istri terlupakan begitu saja karena bagi Prabu Adilaya membaca kitab jauh lebih mengasikan, sampai suatu saat, ketika memasuki tatar Galuh, Dewi Cahya Karembong merasakan sesuatu yang hilang dari perannya sebagai seorang istri, ada perasaan mungkin dirinya kurang menarik perhatian suaminya, dibanding Dewi Kondang Hapa istri pertama Prabu Adilaya, perasaan itu mengundang tanda tanya besar dalam diri Dewi Cahya Karembong, sampai suatu saat takala Prabu Adilaya sedang berwudhu dan tidak ada di tengah-tengah kedua istrinya, Dewi Cahya Karembong bertanya kepada Dewi kondang Hapa:
“ Maaf Aceuk*, sejak saya dinikahkan sampai saat ini saya belum pernah melakukan kewajiban saya sebagai seorang istri, kadang-kadang saya merasa disia-siakan dan diabaikan, apakah Aceuk merasakan hal yang sama atau kalau sama Aceuk biasa-biasa saja?”
Dewi Kondang Hapa merenung sejenak, pelan sekali dia menjawab:
“Aceuk pun merasakan hal yang sama, bahkan kalau itu suatu penderitaan, penderitaan Aceuk lebih lama dari yang Nyai rasakan, karena Aceuk menikah sudah hampir setahun ini, tapi belum diperlakukan sebagai istri”
“Sungguhkan ?” Dewi Cahya Karembong terperanjat mendengarnya
“Benar Nyai, sejak menikah Aceuk belum merasakannya” kata Dewi Kondang Hapa datar, seolah kepada dirinya sendiri
“Apakah mungkin kakang Prabu memiliki kelainan……………?”
“Tidak, Nyai, Kakang Prabu seorang laki-laki sejati” Dewi Kondang Hapa menjawab dengan tegas.
Obrolan kedua istri itu terhenti saat Prabu Adilaya menghampirinya, tetapi dalam bahasan yang sama mereka mengobrol pada saat-saat senggang, tetapi semakin lama, semakin mereka rasakan ada ketimpangan dalam kehidupan perkawinan mereka, mereka merasakan kehampaan dan kesepian, padahal suami yang mereka cintai tidur berdampingan tiap malam, mereka juga merasakan jarak yang makin lebar, padahal setiap saat hampir tidak pernah jauh terpisah. Ketika melihat burung berkasihan dalam perjalanan yang mereka lewati merekapun merasakan lebih hina dari seekor burung.
Suatu saat, ketika ada waktu senggang yang cukup panjang, Dewi Kondang Hapa bertanya :
“Aceuk, Kakang Prabu hendak mencari guru baru?”
“Betul, kalau Kakang Prabu bermaksud untuk berguru lagi, berarti kita semakin tersia-siakan”
“Seandainya Kakang Prabu punya Guru baru dan menjadi murid paling pandai, tentu akan dinikahkan dengan putri gurunya lagi” berkata Dewi Cahya Karembong sambil memandang kebiruan langit, seolah hanya untuk didengar oleh dirinya sendiri.
“Mungkin penderitaan kita akan semakin panjang, disamping menunggu kakang Prabu selesai berguru, juga akan ada istri baru”
Dialog kedua istri yang dilanda sepi berlangsung semakin hangat dan panas, secara bertahap munculnya niat yang kurang baik, entah siapa yang memulai, dari niat itu dikembangkan menjadi sebuah rencana, tanpa disadari Dewi Kondang Hapa menbuka buntelan berisi sebuah keris pusaka yang diwariskan dari orang tuanya, demikian pula Dewi Cahya Karembong melakukan hal yang sama.
Malam harinya pada saat Prabu Adilaya mulai merebahkan diri ditengah kedua istrinya dirasakan sangat berat matanya, sebagaimana biasa sebelum tidur, dipanjatkan doa kepada Allah SWT untuk memohon ampunan dan karuania Nya, Sang Prabu memejamkan mata sambil menyungging senyum, beberapa saat kemudian, kedua istrinya terbangun, diambilnya pusaka masing-masing, dihunusnya pusaka itu dan diangkat dengan kedua tangan diatas dada Prabu Adilaya yang tengah tertidur pulas, pada saat yang hampir bersamaan, dengan keras dihujamkan pusaka itu ke dada Prabu Adilaya, tidak ada jeritan atau lenguh kesakitan, hanya terdengar sebutan asma Allah, bersamaan dengan itu, Prabu Adilaya menghembuskan nafasnya yang penghabisan, darah merahpun memancar dari dada Prabu Adilaya membasahi pakaian dan sedikit demi sedikit membasahi tanah dimana tubuh sang Prabu terbujur, tanah sekitar tubuh itu berubah warna menjadi merah, demikian pula air tanah yang keluar sekitar tubuh sang Prabu warnanya kemerahan, sejak saat itu tempat dimana sang prabu dibunuh dinamakan CIBEUREUM ( beureum = merah)
Burung-burung malam seolah berhenti berkicau, langit cerah mendadak mendung, pucuk-pucuk pohon seolah turut bersedih dengan dihilangkannya nyawa seorang pangeran yang sedang menuntut ilmu dibidang keagamaan, tinggalah dua istri yang kebingungan disertai rasa penyesalan yang mendalam,mereka duduk termenung, sementara kedua pelayannya yang setia Sagolong dan Silihwati masih pulas tertidur, dengan bisik-bisik kedua istri itu berembuk untuk mengubur jenazah di tempat yang jauh dan tersembunyi agar tidak ditemukan utusan dari Sumedang.
Akhirnya diputuskan untuk menggotong jenazah yang dimasukan kedalam kain sarung dan digotong dengan sepotong kayu, mereka berangkat kearah barat, sementara kedua pelayannya mengawasi dari kejauhan dengan terheran-heran tanpa bisa bertanya, ketika sampai di tanah datar yang luas., mereka bermaksud untuk mengubur jenazah disana, namun setelah dipikirkan lagi, ternyata ditempat itu akan mudah ditemukan, maka perjalanan pun dilanjutkan menelusuri anak sungai kearah hulu , disuatu tempat kayu yang digunakan untuk menggotong mayat Prabu Adilaya patah, Dewi Cahya Karembong mengambil sebatang kayu pendek dan berusaha menyambung kayu penggotong, tempat bekas menyambung kayu tersebut sampai saat ini dinamakan SAMBONG, perjalanan pun dilanjutkan beberapa kali kayu penggotong patah dan disambung sampai pada suatu saat kedua istri itu merasa bingung karena kayu penggotong ternyata selalu patah sekalipun sudah diganti akhirnya Dewi Kondang hapa mencoba mengganti penggotong yang baru dan melumuri kayu tersebut dengan tanah ternyata kayu tersebut tidak lagi patah, tempat bekas melumuri penggotong dengan tanah tersebut dinamakan MANGKUBUMI (= mengangkat tanah)
Karena belum menemukan tempat yang tepat untuk mengubur jenazah, kedua istri Prabu Adilaya berbelok ke utara, mendaki bukit-bukit kecil akhirnya sampai ke daerah rawa-rawa, dari kejauhan terlihat ada tanah yang tidak digenangi air, mereka menuju kesana, ditempat itu Dewi Cahya Karembong memerintahjkan kedua pelayannya untuk menggali lubang, pada saat kedua pelayan itu menggali, Dewi Kondang Hapa berbisik kepada Dewi Cahya Karembong, bahwa seandainya kedua pelayan itu dibiarkan hidup tentu akan melaporkan kepada Raja Sumedang bahwa Prabu Adilaya dibunuh kedua istrinya, kedua istri sepakat bahwa kedua pelayan itu juga harus dihabisi untuk menjaga rahasiah mereka, maka sebelum lubang kubur selesai digali, kedua pelayan itu, Sagolong dan Silihwati dibunuh, dan mayatnya dikuburkan bersama-sama dengan jenazah Prabu Adilaya.
Sebelum matahari tepat diatas kepala penguburan ketiga jenazah itu telah selesai, mereka meninggalkan makam tanpa nisan itu, ada rasa penyesalan tak terkira pada diri mereka, Dewi Kondang Hapa berkata :
“Seandainya Aceuk kembali ke Sumedang tentu Aceuk akan dihukum, atau setidaknya banyak orang bertanya kemana Prabu Adilaya, kiranya akan lebih baik kalau Aceuk tinggal di daerah ini biar dapat menjaga makam Kakang Prabu”
“Baiklah, Nyai akan pulang ke Mataram, namun apabila ada sebuah padepokan atau pasantren, Nyai akan singgah dan berguru, semoga Allah SWT menerima tobat kita” menjawab Dewi Cahya Karembong dengan linangan air mata.
Kedua bekas istri Prabu Adilaya berpelukan, mereka memilih jalan masing-masing, Dewi Cahya Karembong memilih suatu tempat di Gunung Goong dan meninggal di sana.

IV
Semenjak di tinggalkan oleh Prabu Adilaya Dayeuh Sumedang seolah merasakan sesuatu yang hilang, raja yang bijaksana itu sementara pergi meninggalkan Sumedang untuk berguru, namun banyak purnama telah berlalu dan tahun pun berganti, tidak ada kabar berita, Ibu Suri kerajaan Sumnedang tentu saja merasa cemas dan gelisah, akhirnya diputuskan untuk mengutus putra keduanya untuk menyusulnya ke Mataram.
Singkat cerita, sampailah di mataram, tetapi ternyata yang disusul sudah pergi kea rah Tatar Sukapura, Adik Prabu Adilaya menyusul kearah sana, tetapi karena tidak adanya keterangan mengenai kakaknya, tempat disemayamkan Prabu Adilaya terlewat, karena tempatnya memang agak tersebunyi, sang adik malah sampai kesuatu daerah di pinggir sungai yang ramai oleh orang berlalu lalang, ternyata disana ada sebuah saembara, siapa yang dapat mengalahkan seekor singa dengan tangan kosong akan dinikahkan kepada putri penguasa daerah yang cantik, banyak pemuda ikut serta tetapi tidak mampu mengalahkan singa tersebut, Pangeran Sumedang itu merasa tertarik, akhirnya dia turun ke gelanggang dan bisa mengalahkan singa tersebut sampai luka parah, sampai saat ini tempat itu dinamakan SINGAPARNA (=singa yang luka parah)
Pangeran Sumedang itu mendapatkan putri cantik dan diserahi sebuah daerah untuk dibuka, di daerah itu dibangun sebuah kota yang mirip dengan ibu kota kerajaan dan menamakan daerah itu dengan nama MANGUNREJA. Berbagai kesibukan pangeran Sumedang itu menyebabkan niatnya untuk pulang terlupakan, sehingga Ibunya di Sumedang tetap mengharap kabar baik yang disusul ataupun yang menyusul juga belum kembali, akhirnya diputuskan untuk berangkat sendiri menelusuri jejak Prabu Adilaya.
Sesampainya di Mataram ternyata mengecewakan, Prabu Adilaya bersama istri dan kedua pengawalnya sudah berangkat ke tatar Pasundan, tanpa berpikir panjang Sang Ibu berangkat ke Tatar Pasundan, sepanjang perjalanan apabila melewati malam beliau selalu memohon kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memperoleh petunjuk dimana kedua anaknya berada, bila siang perjalananpun dilanjutkan, meleati tanah berpasir dan berbukit, akhirnya sampai ke daerah yang berawa-rawa, dari pinggir rawa, sang Ibu melihat sebuah cahaya, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan menyebrangi rawa dan sampai ke sebuah nusa.
Ternyata cahaya tadi bersumber dari gundukan tanah merah, seolah petunjuk bahwa ada sasuatu di sana, Sang Ibu menengadahkan tangan memohon petunjuk Yang Maha Kuasa, dan diperoleh petunjuk bahwa disanalah dikuburkan prabu Adilaya dan kedua pelayannya Sagolong dan Silihwati.
Tangispun tak tertahankan, airmata berurai deras menetes ke tengah gundukan tanah merah, putra sulungnya, pewaris tahta kerajaan Sumedang terkubur di sana. Doa pun dipanjatkan untuk melindungi makam putranya, maka air rawa itu bertambah naik beberapa meter dan makam Prabu Adilaya berada di pulau sebuah danau yang luas, ada bisikan kepada sang Ibu untuk menancapkan tongkat yang selama ini dibawanya, setelah tongkatnya ditancapkan ke tanah, seketika berubah menjadi pohon-pohonan rimbun yang meneduhi makam putranya.
Pada saat akan pulang dan menyebrangi rawa yang sudah berubah menjadi danau, ada empat ekor ikan, sang Ibu menamakan ikan itu dengan nama si Gendam, si Kohkol, si genjreng dan si Layung, dengan tugas untuk menjaga makam dari tangan-tangan jahil yang mengganggunya.
Ketika bermaksud untuk pulang. Sang Ibu bertemu dengan dua orang penduduk setempat, beliau berpesan :
“ mugi aranjeun kersa titip anak kuring di pendem di eta nusa, jenengannana sembah dalem Prabu Adilaya, wangku ka prabonan di sumedang mugi kersa maliara anjeuna dinamian juru kunci ( kuncen ) jeung kami mere beja saha anu hoyong padu beres, nyekar ka anak kami oge anu palay naek pangkat atawa hayang boga gawe kadinya, agungna Allah cukang lantaranana sugan ti dinya.”
Semoga kalian bersedia untuk dititipi anak saya yang dimakamkan di pulau itu, namanya Sembah Dalem Prabu Adilaya, yang memegang tampu ke prabuan di Sumedang semoga kalian bersedia untuk memeliharanya, dan saya memberitahukan kepada siapapun yang berselisih ingin beres, atau naik pangkat juga ingin punya pekerjaan silahkan nyekar ke sana, agungnya kepada Allah SWT semoga sareatnya dari sana”
Setelah itu beliau pulang ke Sumedang.
SUMBER : http://dudu-tasikmalaya.blogspot.co.id/2011/01/sejarah-situ-gede-dan-eyang-prabudilaya.html

LEGENDA PANTAI CIPATUJAH TASIKMALAYA

By Kata Risman   Posted at  10:13 PM   SOSIAL No comments
Selamat siang tasikmalaya lovers.. risman balik lagi nih.. mau ngasih informasi tentang legenda salahsatu pantai di tasikmalaya. Ya.. PANTAI CIPATUJAH berikut legenda yang banyak dimuat dimedia :
  • Asal mula Cipatujah

           Nama Cipatujah diambil dari nama sungai Cipatujah. Sedangkan kata Cipatujah sendiri berasal dari bahasa sunda buhun “patujah-tujah” yang berarti saling menghantam, gambaran dari dua sungai yang menyatu menghantam yang aliran airnya menyatu ke laut Pantai Selatan. Nama sungai tersebut adalah sungai Cipatujah yang sekarang menjadi batas desa sebelah barat dan sungai cipanyerang yang membelah wilayah Desa Ciandum, aliran sungainya bersatu dengan muara yang selalu berpindah-pindah menuju Laut Pantai Selatan. Kemudian oleh para leluhur atau pupuhu yang diantarannya Eyang Ranggagading serta Eyang Ardiwijaya dijadikan sebagai lembur dengan nama Ciapujah sesuai dengan kondisi aliran kedua sungai tersebut

  • Sejarah Desa Cipatujah

Kira-kira awal tahun 1880, lembur Cipatujah telah berubah menjadi desa yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa bernama Raden Atmawijaya, berkedudukan di Talijah yang sekarang berada dalam wilayah Desa Ciheras, tak lama kemudian dikarenakan oleh beberapa hal Raden Atmawijaya pindah ke daerah Cipanas yang sekarang menjadi sebuah desa yaitu Desa Cipanas.

Pada saat berakhirnya masa jabatan Raden Atmawijaya sekitar tahun 1902, beliau digantikan oleh Raden Puradinata yang hanya memimpin selama enam tahun, pada tahun 1908 jabatan Kepala Desa Cipatujah jatuh ke tangan adik Raden Puradinata yang bernama Raden Wiradinata yang memimpin Desa Cipatujah hingga akhir kedudukan Jepang di Indonesia.


Salah seorang kerabat Raden Wiradinata yaitu Raden Miih Natapura kemudian menggantikan jabatan Kepala Desa Cipatujah hingga memutuskan berhenti pada tahun 1948, dengan berhentinya Raden Miih Natapura jabatan Kepala Desa menjadi kosong, maka ditunjuklah Raden Uju Junaedi untuk menjadi pejabat sementara Kepala Desa Cipatujah. Jabatan Kepala Desa Cipatujah yang diemban oleh Raden Uju Junaedi berhasil memilih Kepala Desa yang baru yang diperebutkan oleh Raden Ecep Jumarna putra bungsu Raden Wiradinata dengan Absa Gandawijaya salah satu keturunan Raden Atmawijaya, hasil pemilihan tersebut dimenangkan oleh Raden Ecep Jumarna pada tahun 1950 dalam usia yang relatif muda.

Raden Ecep Jumarna selama sebelas tahun memimpin Desa Cipatujah berhasil menghadang pemberontak DI/TII yang mencoba mengacaukan Desa Cipatujah, dan akhirnya pada tahun 1961 Raden Ecep Jumarna memutuskan untuk berhenti menjadi Kepala Desa Cipatujah. Dengan berhentinya Raden Ecep Jumarna, maka diadakan kembali pemilihan Kepala Desa Cipatujah pada tahun 1961 dengan calon unggulan yaitu Asep Sukna, kakak se-ayah dari Raden Jumarna dengan calon lainnya yaitu Chori Ahyari, yang akhirnya dimenangkan oleh Raden Asep Sukna.


Masa kepemimipinan Raden Asep Sukna yang dimulai tahun 1961, terhadang oleh lahirnya Undang-undang nomor 5 tahun 1979 tetntng pembatasan masa jabatan kepala desa selama 8 tahun. Sehingga pada tahun 1979 jabatan kepala desa Cipatujah dinyatakan demisioner. Untuk kemudian pada tahun 1979 diadakn pemilihan kembali kepala desa yang baru, dalam pemilihan tersebut Raden Ecep Jumarna mencalonkan diri kembali dan sekaligus memenangkan pemilihan dengan mengalahkan calon lainnya yaitu Dayat Hidayat yang merupakan salah satu generasi muda Desa Cipatujah.

Masa jabatan Raden Ecep Jumarna berakhir pada tahun 1988 seklaigus diadakan pemilihan kembali Kepala Desa Ciaptujah yang diperebutkan oleh Raden Eman Sulaeman, cucu dari Raden Puradinata dengan calon lainnya yaitu Sarno Sanjaya, seorang perangkat desa dari Kaur Pemerintahan, pemilihan yang a lot dengan selisih 12 suara dimenangkan oleh Raden Eman Sulaeman. Sampai pada tanggal 28 Oktober 1997 Raden Eman Sulaeman memangku jabatan Kepala Desa Cipatujah, kemudian Raden Eman Sulaeman memangku jabatan sementara Kepala Desa Cipatujah sampai tanggal 17 Mei 1999 dikarenakan tidak ada calon lain yang bersedia mencalonkan diri menjadi Kepala Desa Cipatujah, sehingga jabatan sementara Kepala Desa Cipatujah dilanjutkan oleh Sarno Sanjaya berdasarkan Surat Keputusan Bupati Tasikmalaya tertanggal 2 Februari 1999. Jabatan sementara Kepala Desa Cipatujah yang dijabat oelh Sarno Sanjaya sampai dengan tahun 2001.

Pada tahun 2001 diadakan pemilihan dengan calon Kepala Desa yaitu Sarno Sanjaya melawan calon lainnya yaitu Najmudin yang dimenangkan oleh Sarno Sanjaya denagn masa jabatan sampai dengan tahun 2005.
Pada tahun 2005 diadakan pemilihan kembali Kepala Desa Ciaptujah yang diperebutkan oleh empat calon, diantaranya Sarno Sanjaya sebagai incumbent, Supriadi dari generasi muda sebagai seorang wirausahawan, Heri Hernawan daro tokoh Pemuda dan Undang Sumarsana sebagai Purnawirawan TNI AD, pada pemilihan Kepala Desa tersebut dimenangkan oleh Supriadi dengan perolehan suara sebanyak 1.189 suara dengan masa jabatan selama enam tahun yaitu sampai tahun 2011.

Pada tanggal 24 Mei 2011 diadakan kembali pemilihan Kepala Desa Cipatujah dan Supriadi kembali mencalonkan diri atas dasar dorongan dari para tokoh masyarakat Desa Cipatujah yaitu diikuti oleh Wawan Sudrajat dari Tokoh Pemuda dan Yoyo Sunaryo sebagai Purnawirawan TNI AD, pada pemilhan tersebut dimenangkan kembali oleh Supriadi dengan perolehan suara sebanyak 2.063 suara. Dengan terpilihnya kembali Supriadi sebagai Kepala Desa Cipatujah besar harapan masyarakat akan lebih majunya Desa Cipatujah baik dari segi pembangunan, ekonomi, pendidikan maupun kepariwisataan.

SEKIAN INFORMASI SEJARAH YANG SAYA BISA BAGIKAN..MUDAH MUDAHAN MENJADI WAWASAN DAN SEMAKIN CINTA TERHADAP SEJARAH TASIKMALAYA.
SALAM TASIKMALAYALOVERS.

Thursday, April 14, 2016

LEGENDA TASIKMALAYA

By Kata Risman   Posted at  1:10 AM   SOSIAL No comments




Adakah diantara kalian yang pernah mendengar sejarah adanya Kabupaten Tasikmalaya? Mungkin beberapa dari kalian masih sedikit ingat dengan nama-nama prasasti yang dihapal ketika kelas 4 SD. Prasasti Geger Hanjuang merupakan salah satu artefak yang dapat menjelaskan tentang dimulainya peradaban di Kabupaten Tasikmalaya. Berikut riwayat singkat tentang kerajaan yang pernah berkedudukan di Tanah Parahyangan ini.

Prasasti Geger Hanjuangg merupakan prasasti ke 10 yang ditemukan di Jawa Barat. Ia ditemukan oleh K.F. Holle sekitar tahun 1877, kemudian dibawa dan disimpan oleh Dr. Krom pada tahun 1914. Kini masih terpelihara dan disimpan di Museum pusat Jakarta dengan nomor inventaris D.26. Pembacaan prasasti yang pertama dilakukian oleh K.F. Holle dan hasil bacaannya ditulis dengan judul :Bescheeven Steen Uit Afdeeling Tasikmalaya Residenties Preanger, TBG 24, 1877 halaman 586. Kemudian koreksi C.M. Pleyte pada tulisannya : Het Jaartal Op Den Batoe Toelis Nabij Buitenzorg, TBG. 53, 1911. Akhirnya koreksi Drs. Saleh Danasasmita serta Drs. Atja yang untuk kedua kalinya, hasil bacaan menjadi :
  • Tra Ba I Gunna Apuy Nas
  • Ta Gomati Sakakala Ru Mata
  • K Disusu (K) Ku Batari Hyang Pun
Tra Ba I Gunna Apuy Nasta Gomati Sakakala, artinya tanggal 13 bulan Badrapada tahun 1003 Saka. Ru Mata K Disusu (K) Ku Batari Hyang pun, artinya rumatak (maksudnya rumatak) nama sebuah tempat di Galunggung disusuk oleh Batari Hyang.
Tanggal 13 Badrapada Saka, setelah dihitung sama dengan 21 Agustus 1111 Masehi. Yang dimaksud rumatak ialah nama sebuah tempat di Linggawangi dan selain itu ada tempat yang di beri nama Saung Gede yang dalam sejarah disebut Saung Galah artinya Keraton, letaknya tidak jauh dari kabuyutan sanghyang. Linggawangi adalah sebuah kabuyutan yang dianggap sakral pada jamannya.

Peristiwa Nyusuk terdapat dalam berita dari tiga prasasti, ialah:

  • Batu tulis astana gede kecuali Kabupaten Ciamis disebut Prabu Wastu Kencana Marigi Sakuriling Dayeuh.
  • Batu ditulis di Bogor, disebut Sri Baduga Maharaja Nyusuk Na Pakuan.
  • Prasasti Geger Hanjuang.
Kata Nyusuk menurut pustaka nagara kertabumi diartikan amegahing, artinya: membuat parit pertahanan sekeliling pusat kerajaan. Memang betul, bahwa disekitar itu masih terdapat nama kampung Parigi dan kampung Candi. Pengertiannya ialah, bahwa pada tanggal 13 Badrapada itu, Batari Hyang mengerjakan pembuatan parit pertahanan keraton di ibukota kerajaan Galunggung yang disebut Rumatak. Artinya suatu pendirian kerajaan, perubahan dari kebataraan yang tadinya secara turun temurun berkedudukan sebagai Batara Sangiang Guru Galunggung.


Ia disebut Batari Hyang, karena dirinya seorang wanita. Ia cukup unik karena sampai saat ini, di Jawa Barat ialah satu-satunya yang diabadikan dalam prasasti. Lebih unik lagi, sebab diantara raja-raja di Jawa Barat yang diberitakan pernah memperkokoh pertahanan ibu kotanya dengan parit, dia pulalah satu-satunya tokoh wanita. Tindakan Nyusuk ini tentunya diambil segera setelah mewarisi tahta Galunggung.
Inilah koreksi tentang batara Hyang yang pada naskah hari jadi Tasikmalaya disebut sebagai batari yang melantik sang Lumahing taman menjadi prabu di Galunggung. Hal ini dikoreksi, karena tahunnya menurut negara kerta bumi tidak cocok. Sang lumahing taman atau yang bergelar ratu saung galah prabu raga suci, memerintah pada tahun 1219-1225 saka atau 1297-1303 masehi.

 Berita mengenai galunggung, dimulai dari berita kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh mulai ada berita tahun, ketika diperintah oleh:
  1. Resi guru: 448-490 S = 526-567 M
  2. Raja Putra Suraliman Sakti: 448-519 S = 568-597 M
  3. Kandihawan Rajaresi Dewarja: 519-534 S = 597-612 M
  4. Wrtikandayun Prabu Galuh atau disebut Rahyang Ri Menir: 534-624 S = 612-702 M.
 Dari Wrtikandayun Prabu Galuh atau Rahyang Ri Menir inilah diberitakan Galunggung dan Denuh. Rahyang Ri Menir ini diberitakan mempunyai tiga orang putera. Yang sulung karena cacat tanggal giginya, ia disindir dengan sebutan Batara Sempak Waja, ditempatkan menjadi Batara Dangiang Guru di Galunggung, yang kedua, juga cacat Hernia, ditempatkan di Denuh dengan sebutan Rahyang Kedul. Yang ketiga ialah Rahyang Mandi Minyak yang mewarisi tahta kerajaan Galuh dan menjadi raja Galuh. Rahyang Sempak Waja yang kemudian bertugas menjadi Dangiang Guru di Galunggung mempunyai kekuasaan dalam mengabiseka raja. Raja baru sah jika telah disetujui Galunggung. Disamping itu dia diberi daerah-daerah penunjang (apanage) sebanyak 12 daerah. Galunggung pada waktu itu disebut: “Taraju Jawadwipa, Taraju Mainya Galunggung, Jawa Ma Ti Wetan.” (pengukuh pulau jawa itu ialah galunggung, jawa ada disebelah timurnya).

Urutan-urutan batara yang memerintah kebataraan di galunggung dimulai dari batara Wastuhayu dan kemudian batara Hyang yang mengalami perubahan bentuk kebataraan menjadi kerajaan tahun 1111 bersama raja sunda di pakuan yang dijabat pada waktu itu oleh sang Lumahing Kreta (987-1011 S = 1065-1155 M)

Urutan-urutan raja memerintah di Galunggung ialah:

Batara Hyang (1111-1163), rakean darmasiksa (1163-1175 M) selama 12 tahun raja di galunggung kemudian  diangkat Prabu Susuhunan Pakuan (1175-1297) dengan gelar Rakean Darmasiksa Sang Paramarta Mahapurusa Prabu Sanghyang Wisnu.

Kemudian Ratu Saung Galah Prabu Raga Suci Sang Lumahing Taman selama 6 tahun Keprabuan Pakuan dijabat rangkap dan pusat dipindahkan di Galunggung. Raja daerah galunggung setelah Sang Lumahing Taman ialah: Ratu Galung Sakti, Sembah Golok Ratu Panyosogan Sang Lumahing Gunung Raja dan Sri Gading.
Galunggung Barak diperkirakan pada tahun 1520-an keatas yang diberitakan bahwa Saung Agung pernah diserang Prabu Surawisesa, ketika raja-raja daerah mulai kena pengaruh Islam dan mulai ada yang melepaskan diri dengan Pakuan Pajajaran.
Dengan keterangan tersebut diatas maka pada tanggal 21 Agustus 1111 tercatat adanya pusat organisasi ketertiban masyarakat dalam bentuk pemerintahan Galunggung. Dari sinilah asalnya pemerintahan Tasikmalaya setelah mengalami beberapa periode perkembangan pemerintahan, mulai dari periode pemerintahan di Galunggung, di Sukakerta, di Sukapura, perpindahan pusat pemerintahan Sukapura dari Sukaraja ke Manonjaya, dari Manonjaya ke kota Tasikmalaya pada sekitar tahun 1901 ketika dipimpin oleh Bupati Rta. Prawira Adiningrat dengan nama kabupaten Sukapura, kemudian berganti nama menjadi Tasikmalaya pada tahun 2010, setelah kurang lebih 110 tahun, ibu kota pemerintahan telah berpindah dari kota Tasikmalaya ke Singaparna, di bawah pemerintahan bupati bapak DRS. H.T. Farhanul Hakim, M.Pd dan wakil bupati bapak H.E. Hidayat , SH, MH.

Melihat perjalanan waktu sejak terbentuknya pemerintahan di Galungggung sampai sekarang, maka usia Tasikmalaya telah mencapai 902 tahun, merupakan satu kurun waktu yang sangat panjang dan lama sekali.
Demikianlah riwayat singkat pemerintahan di Galunggung menurut Prasasti Geger Hanjuangg, untuk dapat dipahami dan menjadi bahan renungan kita bersama.
Sukapura ngadaun ngora



ORANG HEBAT DI MAKAM KERAMAT PADAKEMBANG

By Kata Risman   Posted at  12:37 AM   SOSIAL No comments
Assalamualaiku dulur..
sudah lama saya tidak memposting di blog ini.. sibuk dudunia gening..
oke kali ini saya akan membagikan orang orang hebat yang akan selalu hidup dengan kehebatanya ..
Ya,inilah manusia hebat jaman dulu yang berkumpul di tempat ini.salah satu makam keramat yang
Lokasinya ini terletak di kecamatan padakembang kabupaten
tasikmalaya. Daerah didataran tinggi dan perbukitan yang asri, indah dan
udaranya sangat segar dan apabila sore hari, airnya lumayan dingin. Jaraknya
sekitar 20 km dari kota tasikmalaya dan bisa dilalui dari singaparna ataupun dari arah gunung galunggung.

Adapun makam keramat yang berada di daerah ini adalah :


1. Makam Karomah Dewi Sumili Padakembang (Mertuanya Syekh Mukhyi Pamijahan)
2. Makam Putra Mahkota Galunggung (Eyang Secamanggala)
3. Makam Bendungan (Eyang Asmadin dan Eyang Secamanggala)
4. Makam Pasir Pokor (Eyang Warga Kusuma)
5. Makam Eyang Sempak Waja ( Di Daerah Citiis )
6. Makam Eyang Susuk Tunggal (Di Daerah Citiis )
7. Makam Eyang Taji Malela ( Di Daerah Citiis )
8. Makam Eyang Tambleg Meneng ( Di Daerah Citiis )
 
selain untuk mendoakan orang orang hebat ada juga wisata yang bisa agan kunjungi tepatnya di citiis .
Daerah Citiis ini sangat cocok di gunakan untuk tracking, hiking,
camping dan kegiatan fotografi dikarenakan daerahnya yang sangat indah. 
 
selamat menikmati keindahan tasikmalaya.

Wednesday, February 10, 2016

10 TEMPAT PALING ASIKDI SUKAPURA TASIKMALAYA

By Kata Risman   Posted at  6:58 AM   PENDIDIKAN No comments
1. Gunung Galunggung

Gunung Galunggung terletak di kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Desa Linggajati, kecamatan Sukaratu, kab Tasikmalaya, dengan ketinggian 2167 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Gunung Galunggung menjadi tempat favorit berwisata di akhir tahun 2014.

2. Cipanas Galunggung

Cipanas Galunggung merupakan area pemandian kolam air panas. Berendam air panas sepertinya adalah pilihan yang paling tepat untuk menghilangkan rasa penat dan lelah setelah menikmati keindahan kawah Galunggung dan menjadi tempat wisata akhir tahun 2014 yang dapat Anda kunjungi.


3. Situ Gede

Situ Gede merupakan sebuah danau seluas 47 Ha dengan kedalaman air antara 1,5 sampai 6 meter. Ditengah-tengah terdapat sebuah pulau dengan luas 1 Ha. Letak situ Gede relatif dekat dengan pusat kota Tasikmalaya, kurang lebih 4 km. Aktivitas para wisatawan yang dapat dilakukan adalah joging, memancing, menjala ikan, mengelilingi pulau dengan rakit, menikmati pemandangan alam dengan nuansa pedesaan yang sejuk dan segar. Menikmati bakar dan goreng ikan serta ziarah ke pulau situ Gede.

4. Situ Sanghyang

Situ Sanghyang merupakan sebuah danau dengan beberapa saung di tepi danau dengan luas 37 Ha dengan kedalaman air antasa 1,5 sampai 6 meter. Banyak jejeran pohon rindang di sisi danau ditambah bunga teratai serta airnya yang tidak pernah surut menjadi daya tarik tersendiri dari situ Sanghyang. Objek wisata situ Sanghyang ini lebih tepatnya berlokasi di antara Desa Cilolohan dan Desa Cibalanarik, kecamatan Tanjung Jaya, yang berjarak sekitas 25 km dari pusat kota Tasikmalaya.

5. Pantai Balitujah Tasikmalaya

Pantai Balitujah adalah sebuah pantai yang indah yang menghadap ke arah perairan lepas samudera Hindia, tepatnya di pesisir selatan pulau jawa. Secara administratif berlokasi di Desa Cipatujah, kecamatan Cipatujah, kabupaten Tasikmalaya. Dari pusat kota Tasikmalaya berjarak kira-kira 80 kilo meter arah selatan. Bagi Anda yang hendak menuju ke pantai Balitujah dengan kendaraan umum.
Berikut caranya:
Dari terminal Indihiyang tipe A Anda bisa naik bis jurusan Tasikmalaya-Cipatujah/Pamayang/Ciheras dan mintalah turun di Pantai Balitujah

6. Kebun Teh Taraju

Udara sejuk, suasana tenang, dedaunan hijau yang memanjakan mata, itulah gambaran kebun teh Taraju Tasikmalaya. Tepatnya berjarak sekitar 22 km dari kecamatan Salawu dan berjarak 65 km dari Kota Tasikmalaya. Terdapat bukit-bukit kecil yang diselimuti hamparan dedaunan teh. Perkebunan teh Taraju ini, sering dijadikan tempat camping bagi orang-orang pencinta alam. Sebab udara yang sejuk dan pemandangan yang sangat indah, sangat sayang bila berkunjung hanya sebentar saja.

7. Pabrik Engsun Dadaha

Dulunya Pabrik Engsun Dadaha adalah sebuah pabrik terbesar di Tasikmalaya, yang memproduksi tepung tapioka halus sama aci. Tapi setelah di tutup sekitar tahun 2000 an, pabrik tersebut jadi tidak terurus lagi. Bangunan yang belum jadi yang dibelakangnya kini menjadi tempat Wisat foto seperti foto free weading pernikahan dan foto selfie

8. Kampung Naga

Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang di huni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya. Penduduk kampung Naga terkenal karena keramahannya ketika menyambut wisatawan lokal maupun asing. Dijamin anda akan merasa betah menginap beberapa hari di sini. Kampung Naga berada di Desa Neglasari kecamatan Salawu, kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.

9. Danau Lemona Tasikmalaya

 
Danau Lemona adalah salah satu alternatif tempat liburan akhir tahun di Tasikmalaya. Terletak di Salopa, arah selatan kota Tasikmalaya. Jaraknya 15 km dari kantor Samsat Papayan kabupaten Tasikmalaya. Meskipun hanya danau buatan, namun penataan yang apik membuat Anda tidak menyesal mengunjungi tempat ini. Terdapat beberapa fasilitas wisata seperti jembatan terapung, jembatan gantung, sepeda air dan tentu saja saung-saung (resto) tempat Anda memesan dan menikmati makanan khas sunda. Di hari-hari tertentu seperti hari minggu dan hari libur tahun baru Danau Lemona menontonkan live music.

10. Rest Area Urug Rimbun

 
Jika Anda berwisata menuju daerah selatan Tasikmalaya (Kidul) sempatkanlah untuk beristirahat sejenak di Rest Area Urug. Rest Area Urug terletak di Desa Urug, kecamatan Kawalu, kota Tasikmalaya dan merupakan hutan milik perhutani seluas 300 ha. Karcis masuk area ini hanya Rp.5000 rupiah. Anda bisa menikmati pemandangan pohon-pohon besar yang masih rimbun dan sejuk. Selain menikmati keindahan wahana wisata urug rimbun para pengunjung dapat melakukan rekreasi Out Bound, Off Road, Rekreasi Hutan, Joging Track, Camping Ground, Speda Santai, Motor Cros, Foto Free Weading Pernikahan dan bermalam bersama keluarga di hotel saung hateup.

Itulah beberapa tempat wisata akhir tahun 2014 yang dapat Anda kunjungi sebagai tempat untuk memanjakan diri dan untuk mendapatkan semangat baru untuk menyambut tahun baru 2015. Semoga blog sederhana ini menjadi referensi buat Anda semua dan semoga bermanfaat.

10 TEMPAT MAKAN TERBAIK DI TASIKMALAYA

By Kata Risman   Posted at  6:11 AM   SOSIAL No comments
Yo ah,,, yang mau ke tasik siapin catatan... makanan di tempat ini gak boleh kamu lewatan!!

1. Mie Bakso Laksana









They have a good complexion of noodle and meatball. Quite more expensive than the other but still worth the price. You can buy their onion sauce signature so you can enjoy it at home.

2. Es Duren Si MADU







Durian, who don't know this exsotic asian fruit. This palece serve you kind of cold dessert such as fruit juice, fruit soup, and the durian soup. Durian fruit serve in syrup and ice. It taste sweet and also have powerfull aroma. Some people don't like the aroma. I like it so much, how about you?

3. Nasi Tutug Oncom Benhil 96







Simple food made from rice mix oncom. Oncom is traditional food in Tasikmalaya. And diserve with a glass of tea makes feel warm.

4. Kupat Tahu Mangunreja







Terletak di kabupaten tasikmalaya, tepatnya di daerah mangunreja, kupat tahu ini sangat recommended untuk wisatawan yang berkunjung atau kebetulan melewati tasikmalaya saat perjalanan ke kota lain karena lokasinya berada di jalan utama menuju garut via kabupaten tasikmalaya. Soal rasa, silakan coba sendiri. dijamin pasti ketagihan.

5. Nini Anteh







I really recommended this sundanesse Restaurant for those who loves it. The ambience, the food the waitress were great... And it really worth it to come all the way from Bandung to Tasik

6. Amazon Resto









Bistik sapi nya empuk banget ,mie goreng nya mantap ,pokonya puas dech ,jadi ketagihan lagi ke Amazon Resto buruan Bro cobain ya....

7. Mie Baso Loma

Photo of Mie Bakso Loma

Traditional meatball with noodle and meat tofu. In the cold day it's be sugested to eat this food. A warm tea make feel awful for this food.

8. Mie Baso Jaro

Photo of Mie Baso Jaro 

A classic place and food its served here. It's have a good atmosphere, especially the meatball. It's recomended for launch or dinner.

 

9. Goreng Dan Bakar Ayam Hen-Hen

Photo of Goreng & Bakar Ayam Hen Hen 

 Traditional fried and baked chicken then served with traditional sausage, vegetable, sambal, and local taste. And a glass of tea it served that can make you relax.

 10. Saung Hegarsari


 

 

 

 

 

 

some reasons being why i love this restaurant is firstly they give fast service . secondly they have good food (i can say it great), thirdly they have clean place to eat,. fourthly they have a space for children to play (though not too big). what else?
i recommend maranggi satay, stir-fry water hyacinth..

 

 selamat berlibur ketasikmalaya dan selamat menikmalati hidangan super nikmat asli SUKAPURA..

 

 

Lebih Dekat Dengan Galunggung

By Kata Risman   Posted at  5:18 AM   SOSIAL No comments



Uang memang bisa membeli segalanya, bahkan jika ada yang jual, uang bisa membeli waktu dan menambahnya menjadi 32 jam per hari. Sayangnya uang tidak bisa membeli waktu, termasuk waktu berharga bersama keluarga. Ego masyarakat perkotaan yang seolah hidup dalam rentang waktu sempit, kerap menjadikan aktivitas liburan bersama keluarga layaknya sesuatu yang mahal dan langka.
Rutinitas dan kesibukan bekerja memang berdampak negatif bagi keintiman hubungan seseorang dengan keluarga. Untuk merekatkan kembali keintiman yang semakin merenggang, cara yang paling ampuh adalah dengan berwisata bersama keluarga di alam terbuka. Luangkan waktu Anda sekarang, dan jelajahilah keindahan alam nusantara, seperti yang Tim Kami lakukan; menjelajahi keindahan Gunung Galunggung.
Ditulis pada Selasa (9/6/2015), Gunung Galunggung secara administrasi masuk dalam kawasan Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dari Jakarta menuju Tasikmalaya menempuh jarak sekitar sekitar 170 km, atau menghabiskan waktu tempuh sekitar 6 jam perjalanan darat. Waktu tempuh ini akan lebih lama saat menjelang akhir pekan, lantaran jalan yang macet.
Desa Cisayong merupakan pemberhentian awal sebelum perjalanan dilanjutkan menuju Gunung Galunggung. Dari desa ini menuju kawasan Gunung Galunggung hanya menghabiskan waktu sekitar 45 menit perjalanan darat.
Sepanjangan perjalanan hamparan sawah petani menjadi teman setia, beberapa kali juga terlihat gundukan pasir. Selain bertani, warga Desa Cisayong sebagian besar berprofesi sebagai penambang pasir gunung. Pasir Galunggung merupakan salah satu pasir gunung unggulan yang dipasok untuk keperluan kota-kota besar di luar Tasikmalaya.
Untuk bisa menjamahi Gunung Galunggung tidak perlu direpotkan dengan track yang becek, terjal, berliku, dan licin. Pasalnya objek wisata ini sudah dilengkapi dengan tangga. Namun tetap dibutuhkan kehati-hatian dan stamina yang prima, mengingat tangga yang akan dilalui sangat panjang dengan total 620 anak tangga.


Hamparan pemandangan indah kawah Gunung Galunggung yang didominasi warha hijau menjadi obat bagi rasa lelah setelah menaiki anak tangga yang panjang. Semilir angin datang menyejukkan suasana, dan sejauh mata memandang yang terlihat adalah dinding-dinding gunung yang indah. Menurut catatan, puncak Gunung Galunggung berada pada ketinggian 2.167 m dpl. Sepanjang riwayatnya, gunung ini pernah mengalami erupsi dahsyat pada 1982, yang dampaknya bisa dirasakan hingga ke Jakarta.


Kawah Gunung Galunggung menjadi spot favorit bagi para pecinta alam untuk berkemah. Di tempat ini juga dibangun mushola, yang  diperuntukkan khusus bagi mereka yang mendambakan tempat berdoa yang hening, sejuk, dan berdampingan dengan alam. Selain itu, Gunung Galunggung juga menjadi tempat bagi mereka yang gemar olahraga paralayang. Bahkan diantaranya adalah atlet paralayang profesional yang sengaja datang dari luar Tasikmalaya.
Menjelajahi gunung Galunggung merupakan liburan akhir pekan yang sangat menyenangkan. Apalagi aktivitas wisata di alam raya dianggap mampu memupuk sikap kepemimpinan, solidaritas, dan mempererat kembali hubungan keluarga. Namun demikian diperlukan persiapan khusus untuk bisa beraktivitas di alam raya, baik persiapan fisik maupun mental, agar fit dan tetap menjaga kebersihan alam dengan tidak membuang sampah sembarangan.

sumber : http://lifestyle.liputan6.com/read/2248313/mari-menikmati-keindahan-gunung-galunggung-dari-dekat

Profil Orang Nomor Wahid Di Kab Tasikmalaya

By Kata Risman   Posted at  4:49 AM   SOSIAL No comments
push... anak anak siapa sih orang nomor satu di tasikmalaya kabupaten...
yusp,,,,UU RUZHANUL ULUM..
aku kasih ni ringkasan buat kalian yang cinta tanah sukapaura...


PROFIL UU RUZHANUL ULUM


Nama                                          :                  Uu Ruzhanul Ulum
Tempat Dan Tanggal Lahir           :                  Tasikmalaya, Jawa Barat, 10 Mei 1969
Riwayat Pendidikan                     :  


Ia bersama wakilnya Ade Sugianto berhasil memenangkan pilkada Tasikmalaya 2011 dengan perolehan suara sebesar 249.199 suara atau 32,37 persen. Pasangan ini mengalahkan pasangan Hidayat-Asep Djaelani yang diusung oleh PKB dan Partai Keadilan Sejahtera sebanyak 208. 409 suara atau 27,07 persen.
Sedangkan pasangan diusung oleh Partai Golkar yaitu Subarna-Dede T Widarsih, memperolah 20,27 persen dengan jumlah suara 163.736 disusul oleh pasangan Ahmad Saleh-Ucu Asep Dani yang diusung oleh Partai Demokrat diurutan ke empat dengan perolehan suara 55.397 atau 7,2 persen. Empat pasangan dari jalur independen perolehan suaranya dibawah lima persen, seperti pasangan Endang Kusnaeni-Supaeman meraih 14.936 suara atau 1,94 persen. Perorangan nomor 3 Endang Hidayat-Akhmad Juhana, 25.308 suara atau 3,29 persen, perorangan nomer 5 Harmaen Muchyi-Tachman Iding mendapatkan 13.155 suara atau 1.71 persen, perorangan nomor 7 Ade Sumia-Nanang Makmur dapat 39.728 suara atau 5,1 persen.[1]

Tuesday, February 9, 2016

The Green Eiffel Tower Of Tasikmalaya

By Kata Risman   Posted at  8:09 AM   SOSIAL No comments




Selamat malam pamiarsa sebenarnya  aku udah lama and udah post tentang THE  EIFFEL TOWER OF TASIKMALAYA.
But karena aku kangen banget ke  daerah ini..aku post lagi nih..Foto eiffel tower ala lal bambu cetar membajaray..hahha
and for you yang belum berkunjung dan take ficture buruan datang langsung ke tasikmalaya..
keren...sob


selamat berfoto ria di THE GREEN EIFFEL TOWER OF TASIKMALAYA....
wassalamualaikum  sob

Monday, December 14, 2015

OLEH OLEH YANG WAJIB DI ANGKUT DARI SI KOTA TASIKMALAYA

By Kata Risman   Posted at  5:05 PM   SOSIAL No comments




Yo....pagu Guys Gue risman balik lagi nih... mau share ke kalian tentang kota kelahiran gue..yups....tarat...tasikmalaya Kota Kecil Penuh Warna Keindahan,,hahah puitis dikit

berbicara tentang oleh oleh ni Guys,,,Buat kalian yang baru liburan dari tasikmalaya atu yang berencana libur ke kota santri ini..jangan lupa bawa oleholeh khas tasikmalaya yang dijamin bakal bikin kalian penasaran dan pengen tau lebih detail tentang Tasikmalaya...\
lalalalala...
berikut ini adalah List Oleh-Oleh Yang Wajib Kalian Bawa From Tasikmalaya To your Home:

1. KOLONTONG














2. NOGA KACANG KHAS TASIKMALAYA


3. EMPING JAGONG













4 OPAK















Dan masihb banyak lagi yang lainnya...teret teret..(Bang Rhoma) itu baru kaya butiran debu Guys..haha maksudnya itu hanya segelintir makahnan khas yang wajib kalian bawa,,, kalo kalian pengen lebih tau..dan pengen lebih nikmatin lagi keindahan tasikmalaya...yoo...dateng terus ke tasikmalaya.. dijamin coy..
sekian ocehan gue kali ini semoga lo semua bisa nikmatin mommment liburan bareng orang yang lo sayang
bye sob..\wassalamualaikum

WASPADA BENCANA ALAM DI TASIKMALAYA!!

By Kata Risman   Posted at  4:28 PM   SOSIAL No comments
wartapriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.
 Pada musim hujan sejumlah wilayah di Kota Tasikmalaya dinilai rawan bencana alam. Hal itu membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya mengadakan penyuluhan manajemen bencana alam kepada seluruh lurah se-Kota Tasikmalaya di area Situ Cibeureum, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (14/12).


Kepala Pelaksanaan BPBD Kota Tasikmalaya, Soni mengatakan, BPBD mengadakan program pelatihan manajemen kedaruratan bencana alam untuk menyiapkan garda terdepan, yakni lurah seluruh Kota Tasikmalaya. Sebagai garda terdepan, mereka harus mendapatkan pelatihan menghadapi bencana alam yang mungkin terjadi.
“Pelatihan manajemen bencana alam sebagai upaya untuk memberikan pengetahuan dan teknis kepada lurah yang ada di Kota Tasikmlaya agar siap menghadapi bencana alam,” kata Soni kepada Warta Priangan di area Situ Cibeureum Kota Tasikmalaya.


Foto: Andri/WP
Rapat BPBD Tasikmalaya
Soni menjelaskan, dalam program pelatihan manajamen bencana alam, semua lurah mendapat bekal materi dan latihan teknis. Diantaranya, materi radio komunikasi, pertolongan pertama terhadap korban, strategi cepat tanggap. 
Sementara itu, pada bagian teknis mereka diajari cara penanggulangan bencana dan teknik menggunakan peralatan dasar bencana, seperti perahu karet dan lain sebaginya.


Melalui pelatihan ini, dikatakan Soni, nanti setiap lurah akan tahu di mana posisinya kalau terjadi bencana alam. Namun, sebelum berangkat ke arah sana, lurah harus diberi pengetahuan, wawasan kebencanaalaman dan diajari caranya menggunakan peralatan dasar untuk menanggulangi bencana.
Di Kota Tasikmalaya sendiri ada tiga kecamatan yang berpotensi terjadi bencana alam saat musim penghujan. Yakni, Kecamatan Kawalu, Purbaratu dan Tamansari. Di tiga kecamatan tersebut merupakan berupa pergerakan tanah dan longsor.

“Melalui pelatihan manajemen bencana alam ini diharapkan lurah akan tahu apa yang harus dilakukan pertama kali,” pungkas Soni. (Andri/WP)

Sunday, December 13, 2015

Bobotoh Cantik Ini Tak Pernah Absen Saat Persib Merumput

By Kata Risman   Posted at  7:48 PM   SOSIAL No comments
wartapriangan.com, BERITA BOLA.
  Setiap kali Persib Bandung berlaga di kandang dan di beberapa kota di Jawa Barat, gadis manis ini hampir tak pernah absen duduk di bangku tribun VIP. Dengan rambut panjang, mata sipit dan tampilan casual mudah mengenali perempuan yang memiliki senyum manis ini.

Saat menyaksikan laga Persib, tak jarang wajahnya spontan berekspresi saat pemain Persib melakukan serangan atau ekspresi tegang saat arena pertahanan Persib dimasuki penyerang lawan. Ya, gadis cantik ini tak lain adalah cucu dari pelatih Djadjang Nurdjaman, Shasha. Siswi SMP Mutiara Bunda ini memang akrab memaniskan tribun VIP.

Hobinya menonton laga Persib karena habit yang dibentuk dari keluarga besarnya. Sejak kecil, saat masih duduk di bangku kelas 2 SD Shasha sudah merasakan atmosfer pertandingan. Kala itu, homebase Persib masih di Stadion Siliwangi. Shasha kecil sering diajak sang nenek menonton pertandingan dan duduk di bangku tribun VIP. Kala itu di tahun 2007, Djadjang Nurdjaman masih bertindak sebagai asisten pelatih dan carateker pelatih Persib menggantikan Arcan Iurie.
Ilustrasi Suporter Wanita Persib


“Pertama kali nonton suka nonton itu sekitar tahun 2007. Aku masih duduk di kelas 2 SD. Tapi masih ingat suasana pertandingan Persib. Karena dulu kan Abah sudah jadi asisten pelatih. Jadi saya sering nonton ke stadion,” ucapnya di sela-sela pertandingan Persib melawan PBR di Stadion Wisnu Suryasaputra, Kuningan, Sabtu (12/12/2015).

Tapi fanatismenya kepada Persib sempat memudar dan malah membenci saat abahnya tak lagi jadi pelatih Persib.
“Kalau dulu kan belum terlalu mengerti sepak bola dan Persib. Jadi tim yang dilatih sama Abah pasti suka. Dulu abah kan sempat melatih di luar jadi saya malah nggak suka Persib. Baru setelah Abah balik lagi ke Persib, saya jadi suka Persib sampai sekarang,” katanya.
Saat ditanya lebih ngefans ke Persib atau Abahnya, Shasha mengaku saat ini lebih suka dan menggilai Persib.
“Kalau sekarang saya lebih mengerti sepak bola dan Persib. Saya benar-benar ngefans Persib. Jadi bukan melihat ada abahnya di sini,” akunya.
Atas kecintaannya kepada skuad Maung Bandung ini, Shasha tak pernah menolak ajakan Abahnya untuk menonton langsung di stadion. Termasuk laga uji coba di berbagai kota di Jawa Barat.
“Kalau jaraknya dekat, saya selalu usahakan untuk menonton langsung. Apalagi kemarin pas pulang sekolah diajak Abah ke Kuningan. Ya mumpung ada kesempatan saya ikut. Seneng juga sih apalagi lawannya kan PBR, timnya lumayan berat dan Persib menang,” ujarnya.
Dengan tak adanya kompetisi dan turnamen, diakui Shasha pertandingan uji coba dan persahabatan menjadi hiburan yang menyenangkan.
“Sekarang kan sedang nggak ada pertandingan jadi pertandingan seperti ini seru juga. Saya sih sebagai bobotoh berharap agar kompetisi jadi ada lagi,” ucap Shasha.

HITUNG CEPAT HASIL PILKADA TASIKMALAYA 2015-2016 JAWA BARAT

By Kata Risman   Posted at  7:22 PM   SOSIAL No comments

 



jika dipikir pikir PEMILU tahun ini seperti quiz di TV Yang hadiahnya dua juta rupiahhhhhhh
tapi apapun itu ,itu adalah pilihan terbaaik dan semoga baik juga dampaknya..



Kang UU With Cabe Mateng

gimana nih..sob kalian setuju gak sih tongkat kepemimpinan di pegang Kang UU R lagi

??


Berdasarkan sumber terpercaya yang gue cari di sohib gue kang google berikut hasilnya :


 1.SETUJU   Dengan jumlah suara 82547 Atau sekitar 71,39%

2. tidak setuju   Dengan Jumlah Suara 33089 atau sekita 28,61%


 nah Itu hasil quick count yang gw tau...so..siapapun pemimpin kita,,,semoga tasikmalaya selalu bermartabat...
wassalamualaikum
   

Monday, December 7, 2015

Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya

By Kata Risman   Posted at  5:41 AM   SOSIAL No comments

Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Tasikmalaya secara langsung pertama kali diselenggarakan tahun 2006.
1.       Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2006
Dilaksanakan tanggal 7 Januari 2006. Dalam pilkada langsung tersebut, terdapat 4 (empat) pasangan calon yaitu :
  1. Drs. H. Ach­mad Saleh K. dan Drs. H. Tetep Abdulatip (PANPKS dan PBB);
  2. Drs. H. Tatang Farhanul Hakim, M.Pd. dan H.E. Hida­yat B.A. (PPP);
  3. Harun Al-Rasjid, S.H., M.H., dan Drs. H. Acep Adang Ruhiat, M.Si. (GolkarPKB);
  4. 4. H. Ade Hermawan dan Drs. H. Kiswaya (PDI-P)


Hasil :
Perolehan Suara Sah Pilbup 2006 


1. Drs. H. Tatang Farhanul Hakim, M.Pd. dan H.E. Hida­yat B.A. : 352.218 suara (43,74%)
2. Drs. H. Ach­mad Saleh K. dan Drs. H. Tetep Abdulatip : 195,216 suara (22,24%)
3. Harun Al-Rasjid, S.H., M.H., dan Drs. H. Acep Adang Ruhiat, M.Si. : 150.161 suara (18,65%)
4. H. Ade Hermawan dan Drs. H. Kiswaya  : 107.666 suara (13,37%).


Persentase Perolehan Suara Sah Pilbup 2006
Berdasar perhitungan suara tersebut, pasangan Drs. H. Tatang Farhanul Hakim, M.Pd. dan H.E. Hida­yat B.A.,
terpilih dan ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati definitif Kabupaten Tasikmalaya Periode 2006-2011.
2.    Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011
Dilaksanakan tanggal 9 Januari 2011 untuk menentukan bupati dan wakil bupati periode 2011-2015. Dari delapan pasangan calon, empat diantaranya pasangan dari jalur perseorangan.
Pasangan calon bupati dan wakil bupati tersebut adalah :
  1. Endang Kusnaeni-Suparman (jalur perseorangan);
  2. Subarna-Dede T Widarsih (Partai Golkar);
  3. Endang Hidayat-Ahmad Juhana (jalur perseorangan);
  4. Ahmad Saleh-Ucu Asep Dani (Partai Demokrat);
  5. Harmaen Muchyi-Tachman Iding Husein (jalur perseorangan);
  6. Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto (PPP, PDI-P dan PAN);
  7. Ade Sumia-Nanang Mamur (jalur perseorangan); dan
  8. Endang Hidayat-Asep Ahmad Djaelani (PKB dan PKS).
Hasil :Perolehan Suara Sah Pilbup 2011
  1. Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto (PPP, PDI-P dan PAN) : 263.099 suara (32,25%)
  2. Endang Kusnaeni-Suparman : 15.530 suara (1,90%)
  3. Subarna-Dede T Widarsih (Partai Golkar) :  171.873 suara (21,07%)
  4. Endang Hidayat-Ahmad Juhana  : 27.802 suara (3,41%)
  5. Ahmad Saleh-Ucu Asep Dani : 60.051 suara (7,36%)
  6. Harmaen Muchyi-Tachman Iding Husein  : 13.319 suara (1,63%)
  7. Ade Sumia-Nanang Ma’mur : 42.596 suara (5,22%)
  8. Endang Hidayat-Asep Ahmad Djaelani : 221.554 suara (27,16%)
Jumlah warga yang menggunakan hak pilih mencapai 844.033, sedangkan suara tidak sah 28.209 dan suara sah 815.824 atau 96,66 persen. Dengan tingkat partisipasi pemilih mencapai 66,02%.


Persentase Perolehan Suara Sah Pilbup 2011 

Hasil penghitungan suara tersebut kemudian dituangkan dalam Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tasikmalaya Nomor 02/Kpts/KPUKab-011.329078/2011 tentang Penetapan Hasil Rekapitulasi Penghitungan Suara Dalam Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya Tahun 2011 tanggal 15 Januari 2011.
Berdasar penghitungan suara tersebut, pasangan Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto  terpilih dan ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati definitif Kabupaten Tasikmalaya – dan dituangkan dalam Keputusan KPU Kabupaten Tasikmalaya Nomor : 03/Kpts/KPU-11.329078/2011 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati terpilih Hasil Rekapitulasi Penghitungan Suara dalam Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya Tahun 2011 pada tanggal 15 Januari 2011.

Back to top ↑
Connect with Us

© 2016 Tasikmalaya Bermartabat. WP KAB.TASIKMALYA taked at TASIKMALAYA, JAWABARAT
Blogger templates. Proudly Powered by RISMAN blogger.